Penyerangan yang terjadi di Prancis beberapa waktu belakangan ini membuat umat Muslim di negara tersebut merasa tertekan. Pasalnya, Muslim Prancis semakin dicurigai menyusul dua serangan mematikan yang terjadi dua pekan berturut-turut.

Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron melanjutkan penindakan kerasnya terhadap Islam radikal. Proyek yang ia sebut memberantas ‘separatisme’ ini membuat Muslim di Negeri Menara Eiffel kian terjepit. “Ini sangat mengkhawatirkan bagi Muslim, beberapa berbicara mengenai meninggalkan Prancis, situasinya tegang, ada ketakutan di sini,” kata sosiolog Hicham Benaissa, dilansir Channel News Asia, Selasa (3/11).

Ketegangan semakin meningkat setelah pembunuhan guru Samuel Paty ditangan remaja keturunan Chenchen. Disusul serangan di gereja Katolik Nice yang menewaskan tiga orang.

Muslim Prancis biasanya tetap menegakkan dagu mereka, tapi tetap saja ada rasa tanggung jawab. Islam menjadi agama terbesar kedua di Prancis, yang menjadi negara dengan populasi Muslim terbanyak di Eropa Barat. Namun lima juta Muslim di negara itu telah menempuh jalur berliku hingga sampai di Prancis.

Tak hanya itu, diskriminasi juga membayangi kehidupan Muslim Prancis dan menjadi tantangan untuk masuk ke hidupan arus utama. Pasalnya, Prancis mengedepankan sekularisme yang melindungi kebebasan beragama.

Namun dalam beberapa tahun terakhir sekularisme menjadi alasan pemerintah untuk menekan Muslim. Undang-undang yang diusulkan Macron menjadi langkah lebih jauh undang-undang 1905 yang dihasilkan dari bentrokan negara dengan Gereja Katolik Roma.

Terkait penyerangan yang terjadi pada Paty dan di gereja Katolik Nice telah dikecam oleh para tokoh Muslim di Prancis. Bahkan imam masjid Ar-Rahma di Nice, Otman Aissaoui mengatakan serangan di Nice ‘menyentuh saudara dan saudari kami yang beribadah pada Tuhan mereka, saya sepenuhnya Kristen hari ini’.

“(Namun) sekali lagi kami distigmatisasi dan orang bergerak begitu cepat untuk menyatukan semuanya,” kata Aissaoui. “Muslim tidak bersalah atau bertanggung jawab, kami tidak boleh menjustifikasi diri kami sendiri,” kata pejabat Dewan Peribadatan Muslim Prancis (CFCM) Abdallah Zekri.

Rencana ‘pemisahan’ Macron yang akan mengatur organisasi Muslim di Prancis, mulai dari pelatihan imam hingga pengelolaan asosiasi muslim telah menimbulkan perpecahan. Rencana itu fokus pada sekularisme Prancis yang dikenal laicite. “Kehadiran Islam bukan sesuatu yang diramalkan masyarakat Prancis,” kata Imam dari Bordeaux, Tareq Oubrou.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here